Sastra

PUINI

EMPAT tahun silam seharusnya sudah menjadi kenangan yang tersimpan di sebuah album lusuh, penuh bintik-bintik putih, bahkan pudar. Tapi, tidak untuk Puini. Gadis berambut ikal, dengan bolat mata bulat. Kotak hitam yang selalu ia bawa, mungkin salah satu penyebabnya. Pernah ayah Puini diam-diam mengambil dan membuangnya ke tempat sampah. Aneh. Esok paginya dia melihat kotak hitam itu berada di meja makan, di dekat Puini. Padahal semenjak pagi dia tidak pernah melihat Puini turun dari tempat tidur. Tapi kotak hitam itu jelas ada di tangan Puini. Ayahnya berpikir kalau kotak yang ia ambil mungkin kembali sendiri atau Puini memang mengambilnya sementara dia tidak tahu. Saat matahari mulai menghilang, Puini selalu duduk di balkon rumah. Dengan secangkir kopi dan beberapa bakpao di meja. Puini b...

Jamur Penjual Dagangan Basi

Kamu sudah berbuih menjadi nikotin .Sesuatu seperti mecin yang terus memberi rasa untuk hidup. Sebuah pondasi membangun untuk masa depan yang lebih indah. 80% hidupnya bagai candu yang membuat tenggorokan terhenyak dalam kematian sesaat. Sungguh menyenangkan tanpa memikirkan seberapa besar resiko yang akan terjadi. Berlarian di taman ganja tanpa menyentuhnya. Apalagi menyalah gunakannya. Kemudian seorang sipir mengetahui keberadaan kita di taman ganja. Dia marah dan membakar ganja itu dengan satu tebasan batang korek. Dengan sigapnya, batang korek mengabulkan permintaan memunculkan bunga api. Aroma ganja tersebar kemana-mana. Kami mabuk kepayang. Tak hanya kami, tapi 5 desa merasakan candunya. Semuanya teler. Sipir panik, dan kemudian lari entah terbang ke bumi bagian antah berantah.  Kami...

Bunda

Cipta :  Wahyu NH Aly Kau mengharapkan kehadiranku…. Bibirmu siang-malam basah oleh lantunan doa seraya terus menjagaku dalam perutmu…. Tiada keluh kesah yang mengalir…. Kau lenyapkan rasa cape dan bahagiamu…. Demi aku…. *** Meski kini kau melihatku, tidak sebagaimana yang kau harapkan…. Kau menerimaku apa adanya…. Bahkan kau melupakan semua harapanmu kala itu…. Kau pun bahagia menjagaku lagi…. Demi aku…. *** Begitu melihatku…. Kini kau memiliki harapan baru…. Kau terus percaya dengan harapan…. Yang kau sendiri tak tahu apa sebenarnya makhluk “harapan” itu…. Demi aku…. *** Lika-liku hidupmu dengan kehadiranku…. Kau tampak tak menyesali…. Semua rasa sakit yang kuberikan padamu, kau terima dengan lapang dada…. Kekecewaanmu atas harapan itu pedaku, kau hiraukan…. Demi aku…. *** Kau melumasi m...

Buku

Cipta : Erni Ristyanti Buku… Kau adalah sumber ilmu… Dimana aku belajar dan membaca… Dari aku tak tahu sampai tahu… Buku… Kau adalah jendela ilmu… Jendela menuju kehidupan yang lebih sukses… Menuju kehidupan yang lebih indah… Halaman demi halaman… Lembar demi lembar… Kubaca dengan serius… Hingga aku lupa waktu… Terimakasih buku… Engkau temaniku… Dari kecil hingga besar… Tuk menggapai cita-citaku….

Guruku Pahlawanku

Cipta : Risma Z   Oh guruku Kau pahlawan hidupku Bagiku kau orangtuaku Yang setia mengajariku Oh guruku Susah senang kau hadapi Itu semua demi kami Oh guruku Ku berterimakasih padamu Untuk semua jasamu Terima kasih guruku

Guruku

Cipta: Adelia   Oh guruku Kau adalah pahlawanku Aku sangat berterimakasih Atas bimbinganmu padaku Dan pada murid-muridmu   Kau mengubah kami Yang tidak tahu menjadi tahu Kau tak kenal lelah Mengajar dengan tabah Kala menghadapi muridmu   Kau terus maju Demi mencapai cita-cita Mati-matian mendidik muridmu Aku tak kan pernah melupakan jasamu Oh guruku