Share This Post

Sastra

PUINI

EMPAT tahun silam seharusnya sudah menjadi kenangan yang tersimpan di sebuah album lusuh, penuh bintik-bintik putih, bahkan pudar. Tapi, tidak untuk Puini. Gadis berambut ikal, dengan bolat mata bulat.
Kotak hitam yang selalu ia bawa, mungkin salah satu penyebabnya. Pernah ayah Puini diam-diam mengambil dan membuangnya ke tempat sampah. Aneh. Esok paginya dia melihat kotak hitam itu berada di meja makan, di dekat Puini. Padahal semenjak pagi dia tidak pernah melihat Puini turun dari tempat tidur. Tapi kotak hitam itu jelas ada di tangan Puini. Ayahnya berpikir kalau kotak yang ia ambil mungkin kembali sendiri atau Puini memang mengambilnya sementara dia tidak tahu.
Saat matahari mulai menghilang, Puini selalu duduk di balkon rumah. Dengan secangkir kopi dan beberapa bakpao di meja. Puini bukan gadis penyuka kopi atau bakpao. Dia membiarkan kopi utuh dan dingin.
“Kopi ini untuk mas Pram,” katanya. Dia ingin menikmati pagi begitupun saat senja. Puini akan berdiri memandang langit yang berubah warna. Kemudian diikat rambutnya dan berpose menghadap matahari.
“Puini,” tegur ayahnya.
Suara itu membuyarkan lamunan gadis berambut ikal. Kau tahu? Puini benci jika senjanya diganggu. Puini hanya ingin mengngatnya. Toh uini selalu menepati janji. Dia akan masuk saat azan berkumandang.
***
DI umurnya yang 19 tahun ini, seharusnya Puini penyanyi go international. Setelah usahanya yang begitu luar biasa sejak kecil. Sayang, dia yang terobsesi dan memaksakan diri membuat pita suaranya menghilang. Puini kecewa atas kegagalannya. Dia mengurung diri selama berhari-hari.
Lantas ayahnya mengundang Pram ke rumah. Pram psikolog muda hebat yang dikealnya. Pram juga orang yang berjasa saat ayahnya kehilangan Ani, ibu Puini.
Pram mencoba menyapa gadis yang sedang duduk di kasur. Tidak ada jawaban saat itu. pram lupa kalau Puini telah kehilangan suara. Ia berpikir dan mencari cara bagaimana ia berkomunikasi dengan Puini. Kemudian ia mulai menggerakkan tangannya seraya tersenyum ramah pada gadis itu. hebing. Puini masih diam. Saat Pram mencoba memegang tangan Puini, dihempaskan oleh gadis bermata bulat itu.
“Baiklah, aku senang bertemu denganmu. Mungkin kau belum siap untuk becerita. Tapi, cobalah kau berpikir gadis cantik. Ada yang lebih sedih di balik pintu kamarmu. Dia ingin kau tersenyum lagi.” Pram meninggalkan Puini sendiri dan kembali besok.
***
INI kali ketiga Pram menemui Puini.Wajah Puini semakin tirus dan matanya bengkak. Mungkin semalaman Puini menangis. Pram kembali mendekati Puini. Kali ini ia ingin menonton beberapa film bersama Puini. Kata ayahnya, Puini menyukai film India. Ini bukan hal yang membosankan untuk Pram karena ia juga menyukai film India.
“Kau mau ikut menonton? Aku punya bberapa serial terbaru, pemainnya Amir Khan. Kau pasti suka. Kata Ayahmu kau penggila Bollywood, kan?” Pram tak banyak bicara. Dia langsung memutar film India genre komedi. Dan sepertinya Pram gagal lagi. Sudah setengah durasi Puini tetap bungkam.
“Aaa….” Terdengar suara serak dari bibir Puini setelah Pram mematikan DVD player-nya.
‘Kau ingin menontonnya lagi?” Puini mengangguk.
Suasana semakin berbeda melihat bibir Puini mulai mengembang manis. Pram mencoba menggerakkan tangannya, mengenalkan beberapa bahasa isyarat kepada Puini. Sebenarnya ia juga kesulitan. Ini pertama kalinya Pram menangani seseorang yang tak bisa bicara.
“Kali ini pasti berhasil,” batin Pram.
***
ADA beberapa alasan yang membuat Pram masih mendatangi Puini ke rumah. Pertama mungkin karena dia lelaki dan Puini permepuan. Pram tidak punya kekasih begitupun Puini. Di balkon rumah Puini, Pram dan gadis berambut ikal itu duduk menikmati secangkir kopi. Ada satu piring bakpao untuk menemani mereka.
Ada perasaan gugup saat Puini menatap lekat wajah Pram. Kehangatan dan kasih sayang jelas terpancar dari wajah laki-laki yang belakangan ini membuatnya tersenyum.
“Boleh aku mengatakan sesuatu? Duduklah!” perintah Pram. “Besok aku akan pergi.”
Sesak rasanya hati Puini. Entahlah, Puini hanya tidak ingin seseorang yang ada di hadapannya meninggalkan ia sendiri. Dia tidak sanggup lagi jika harus kembali terpuruk untuk kedua kalinya.
“Tidak lama, hanya dua tahun,” kata Pram melanjutkan.
Bodoh. Dua hari saja Pram tidak datang ke rumah Puini, ia merasa satu tahun tidak bertemu Pram. Dua tahun? Apa sanggup Puini memendam kerinduan?
“Aaa….” Dengan tangannya Puini mencoba bertanya kemana Pram ingin pergi. Jauhkah?
“Ada kesempatan beasiswa di Singapura,aku akan menyesuaikan S2-ku di sana. Aku juga ingin mencari sesorang.”
Hening. Puini mencoba memahami meski hatinya ingin menjerit jangan pergi. Apalagi Pram mencari seseorang di sana.
Pram mengambil kotak hitam di saku celana. Dilihatnyaisi kotak itu kepada Puini. Ada perasaan lega di hati Puini. Tidak perlu dia bertanya siapa orang itu. Jelas, laki-laki tampan di hadapannya telah memilihnya.
“Pergilah! Aku akan menunggumu di balkon rumahku ini,” kata Puini dalam sesobek kertas yan ia berikan pada Pram.
“Terimakasih Puini, pasti aku akan kembali. Terimakasih.”
***
HARI mulai gelap. Aroma kopi tak lagi menyentuh dinding hidung Puini. Ia masih ingin menikmati senja. Tidak ingin diganggu sekalipun itu ayahnya.
“Masuklah! Mas Pram ingin bertemu denganmu.”
Puini terlonjak kaget saat ayahnya menyebutkan seseorang ia rindukan. Mas Prama? Matanya mulai berbinar saat menuruni tangga. Kurang dari dua tangga, Puini berhenti. Ia lupa akan sesuatu. Kemudian ia kembali ke balkon.
Prang! Terdengar suara vas bunga pecah. Prangg! Sekali lagi suara itu terdengar. Mungkin piring atau gelas yang pecah. Selanjutnya jeritan keras membuat ayahnya berlari menaiki tangga kembali ke balkon.
“Ada apa, Puini?”
Puini menuliskan sesuatu, tapi sebelum ia selesai menulis, ayah Puini menyodorkan kotak hitam yang dicari.
Ah, lagi-lagi Puini dibuat kecewa saat dia kembali menuruni tangga. Tidak ada sosok laki-laki jangkung bermata sipit itu. Di ruang tamu, ruang makan, hingga di teras rumahnya pun tidak ada. Hanya ada satu undangan pernikahan di meja. Tubuh Puini jatuh, lemas memandang undangan itu. Puini tahu hanya ada tulisan Pramono. Entahlah. Pikirannya kacau.
“Apakah kau masih mengizinkan untuk menulis namamu di undangan itu? Dan cincin di dalam kotak hitam  itu, bolehkah aku memakaikan di jari manismu?” Suara itu? Mas Pram? Puini berdiri dan meraih tubuh laki-laki itu.
Di balik tubuh laki-laki yang ia rindukan terlihat gadis cantik dengan mata sipit.
“Ah, masa bodoh! Siapapun dia, Pram adalah kekasihku,” batin Puini kembali memeluk laki-laki jangkung itu.
Rujukan:
[1] Dikutip dari karya Risa Pramita
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 13 September 2015

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>