Share This Post

Sastra

Jamur Penjual Dagangan Basi

Jamur Penjual Dagangan Basi

Kamu sudah berbuih menjadi nikotin .Sesuatu seperti mecin yang terus memberi rasa untuk hidup. Sebuah pondasi membangun untuk masa depan yang lebih indah. 80% hidupnya bagai candu yang membuat tenggorokan terhenyak dalam kematian sesaat. Sungguh menyenangkan tanpa memikirkan seberapa besar resiko yang akan terjadi. Berlarian di taman ganja tanpa menyentuhnya. Apalagi menyalah gunakannya. Kemudian seorang sipir mengetahui keberadaan kita di taman ganja. Dia marah dan membakar ganja itu dengan satu tebasan batang korek. Dengan sigapnya, batang korek mengabulkan permintaan memunculkan bunga api. Aroma ganja tersebar kemana-mana. Kami mabuk kepayang. Tak hanya kami, tapi 5 desa merasakan candunya. Semuanya teler. Sipir panik, dan kemudian lari entah terbang ke bumi bagian antah berantah.  Kami meneruskan ilusi yang terbangun. Dunia nya begitu nyata tanpa rambu-rambu larangan berhenti disini atau dilarang parkir disini. Semuanya terus berjalan tanpa hambatan. Jalan tol pun kalah.

Tak berkehendak, angin berhembus sangat kencang. Kencangnya luar biasa. Semua terangkat untuk tak seperti biasa. Mereka menggeletak tak padanya tempatnya. Pohon bergelimpangan, mobil berdarah-darah, becak termutilasi, dan makhluk-makhluk lainnya yang sungguh mengenaskan. Petir dengan santainya mencari udara. Mengitari bumi dengan merata. Menyapa semua yang ditemuinya. Berjabat tangan dengan tegas ke semua benda. Petir tertawa lepas. Hari ini dirinya sungguh merasa bebas. Melenggang kanan-kiri –atas-bawah tanpa beban. Dengan rasa penguasa dunia. Disapanya semua. Jalan tol pun kalah.

Semua hancur. Luluh lantah tanpa tersisa. Benih kacang panjang pun tewas terpanggang senyuman petir. Sisa-sisa kehidupan hanyalah virus yang menjadi mafia-mafia kehidupan. Mereka berkuasa paling atas tanpa saingan. Hidupnya mutlak kekayaan. Urutan kedua sebagai penguasa adalah Jamur. Para jamur sebagai penjual pun menjadi juragan. Jamur memanen dari para makhluk yang bergelimpangan. Mutilasi-an petir sungguh membawa berkah baginya. Darah-darah ditampung dengan ember. Untuk kemudian setelahnya akan diolah menjadi makanan pencuci mulut.

Namun penulis luput. Dia lupa mencantumkan pembeli untuk dagangan jamur. Mafia tak membeli dari Jamur. Mafia serba tersedia dari dewa Siwa. Namun Jamur? Mereka menjadi juragan dengan dagangan basi. Petir di atas sana,entah berpikir atau tidak. Saat semuanya disapa dan pergi.

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>