Share This Post

Sastra

Bunda

Bunda

Cipta :  Wahyu NH Aly

Kau mengharapkan kehadiranku….
Bibirmu siang-malam basah oleh lantunan doa seraya terus menjagaku dalam perutmu….
Tiada keluh kesah yang mengalir….
Kau lenyapkan rasa cape dan bahagiamu….
Demi aku….
***

Meski kini kau melihatku, tidak sebagaimana yang kau harapkan….
Kau menerimaku apa adanya….
Bahkan kau melupakan semua harapanmu kala itu….
Kau pun bahagia menjagaku lagi….
Demi aku….
***

Begitu melihatku….
Kini kau memiliki harapan baru….
Kau terus percaya dengan harapan….
Yang kau sendiri tak tahu apa sebenarnya makhluk “harapan” itu….
Demi aku….
***

Lika-liku hidupmu dengan kehadiranku….
Kau tampak tak menyesali….
Semua rasa sakit yang kuberikan padamu, kau terima dengan lapang dada….
Kekecewaanmu atas harapan itu pedaku, kau hiraukan….
Demi aku….
***

Kau melumasi minyak penenang padaku, kala aku terjatuh….
Kau dorong aku hingga uratmu menegang kencang, kala aku berhenti….
Pori-porimu melebar, menunjukkan kekhawatiran tatkala aku tersesat….
Bijaksanamu tiada kering mengiringiku….
Demi aku….
***

Kau kuat dalam tubuhmu yang rapuh….
Kau tersenyum dalam menahan perih serpihan kaca kehidupan yang menusuk tubuhmu….
Kau memelukku dalam teriknya masalah yang kau terima….
Kau berikan selimutmu padaku dalam dinginnya hembusan angin disekitarmu….
Demi aku….
***

Kau lepaskan diriku demi kebahagianku tatkala aku dewasa….
Kau tak meminta sedikitpun upah atas jasamu….
Kebahagianku seolah sudah menjadi imbalan yang lebih bagimu….
Kaupun senantiasa terbuka menerima keluh kesahku, kapanpun….
Demi aku….
***

Bunda, maafkan anakmu ini yang tak mampu menghentikan raharu atas kasih sayangmu….
Hingga kurangkai syair ini untukmu….
Bunda, maafkan anakmu ini yang tak kuasa menahan air mata ini tatkala merangkai kata-kata ini….
Hingga tubuhku basah terguyur….
Kini aku tak tahu demi siapa….
***

Bunda, maafkan anakmu ini yang belum tahu bagaimana harus berterimakasih atasmu….
Meski kutahu kau tak mengharapkannya….
Bunda, maafkan anakmu ini yang belum bisa memberikan apapun untukmu….
Meski kutahu kau tak memerlukannya….
Kini aku tahu, semua yang kulakukan hanyalah untukku sendiri….
***

Bunda, dalam keegoisanku….
Dalam perangai burukku….
Bunda, dalam rajutan kasih sayangmu….
Dalam mahligai cintamu yang tak pernah usang….
Kulantunkan syair ini untukmu, meski kutahu ini kan kembali untukku….
***

Yang tenggelam dalam kasih-sayangmu….
Yang sedang berenang dalam samudra burukku, menuju pantai cintamu….
Anakmu…

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>